Selasa, 05 Juni 2018

Untuk, senja.

Surat Ke dua
Ibu Kota, 5 Juni 2018

Kepada : Kau dan Aku yang tak pernah sama
Dari     : Seseorang yang kau kenal

Apa kabar disana? Rasanya tak perlu lagi aku berbasa-basi denganmu dengan sapaan 'halo' bukan? Karena 'Halo' adalah hak patenmu untuk menyapaku setelah berhari-hari baru sempat membalas pesanku. Iya, ini aku lagi. Sudah lama rasanya terakhir kali aku menulis surat untukmu yang bahkan tak pernah berani aku kirimkan. Namun, aku yakin bahwa semesta akan menyampaikan suratku ini dengan 1001 caranya sendiri. Kali ini aku ingin bertanya sungguhan, apa kabar kau disana? apakah baik? bagaimana tidurmu? apakah teratur? apakah kau masih terus meminum kopi agar kelopak mata itu tak mengatup? kau tidak lupa makan buah kan? jangan-jangan kau lebih sering minum es sekarang? ahh.... maaf, maafkan kelancanganku bertanya seperti ini, adalah pertanyaan impulsif yang digoreskan oleh pena ini, pena ini merindukanmu, bukan aku. Aku disini baik, dalam segi fisik.. aku lebih tangguh sekarang, dalam segi fisik. Ah sudahlah. Kau tau? rasanya senja akhir-akhir ini tak seindah dulu. Langitnya tetap jingga, aromanya masih khas, suasananya masih sama, namun ku rasa ada yang hilang dari senja akhir-akhir ini, apakah kau merasakannya juga? 

Hei! aku lupa, aku baru saja menulis puisi yah.. sedikit banyak berhubungan dengan senja, temanku yang minta, entah untuk ia apakan, kau mau baca?

"Di Persimpangan"

Sesaat senja menyapa
Aku masih duduk di persimpangan
Menunggu datangnya harap 
Hingga datang gelap

Ketika langit mulai menghitam
Pekat tengah malam
Purnama benderang
Harapanku mulai pudar

Selalu menunggu 
Dimana keberadaan pelangi
Yang nampak usai badai
Namun nyatanya hanya kilat menyambar

Ketika rintik hujan membasuh
Aku masih duduk di persimpangan
Menunggu datangnya harap
Walau Hanya kekecewaan yang hinggap

Sejenak ku berfikir
Mengapa aku begitu bodoh?
Menunggu harapan yang semu
Menipu diri dan hati

Namun apa daya
Buta hati ku
Ditipu harapan semu
Yang telah merasuk damai merayu

Hingga akhirnya..
Hanya tangis 
Hanya luka
Dan hanya sakit yang ku rasa 

Bagaimana? Aku sudah membayangkan reaksimu, pasti kau akan bilang "sepertinya ada yang berbeda dari tulisanmu" Hmm.. aku juga merasakan hal yang sama, ku pikir senja akhir-akhir ini sedikit banyak mempengaruhiku. Rasanya, setiap senja mulai menyapa, ada perasaan sesak yang turut serta dibawanya. Tidak! Aku tidak membenci senja, bukan itu, tapi kenangan yang dibawanya. Seolah merayuku untuk terjun kedalam lubang yang paling dalam, menyisakan perih layaknya bilur yang disiram air garam.

Sepertinya aku mulai lelah, seperti ini. Menjadi naif akan segala, mengingkari nyata. Bertahan dalam kegelapan dan kesunyian. Aku pernah bilang bahwa semuanya telah usai, namun rasanya luka ini tak akan pernah bisa diredam dan semakin terburai. Semakin bercengkerama luka ini dengan perihnya. Aku masih bertanya, kapan aku akan sampai diujung derita?

Kau bilang semua punya masa! kau bohong! aku kecewa. Nyatanya selalu hujan disini, rintik hujan asam korosif yang makin merusak dan menambah perih bilur ini. Aku harus apa? Harus bagaimana? ah.. aku lupa, kau tak akan peduli bukan? benar, seperti sebuah kesia-sian bagiku menulis ini semua, namun apa daya, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mengurangi sakitnya, jadi, apa aku salah? tolong jawab. AHH.. maaf sepertinya aku mulai meracau... sepertinya aku mulai mengigau.. boleh kita ulang lagi surat ini dari awal?

Halo, Apa Kabar?



-s-

[Tanda Tanya] Di tepian aku sedang menjamu Pilu yang rampung diramu Mencoba berkelakar dengan kalbu Berdesing menggapai sendu Sudah a...